• Sabtu, 18 April 2026

Ini Makna Logo dan Maskot Ana Penebus HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu

.
Jumal Hauteas, SabanaPedia.com
- Sabtu, 18 April 2026 | 09:50 WIB
Kolase foto logo dan Maskot Ana Penebus untuk perayaan HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu. (Dokumentasi_Panitia)
Kolase foto logo dan Maskot Ana Penebus untuk perayaan HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu. (Dokumentasi_Panitia)

WAINGAPU, SABANAPEDIA.COM - Paroki Sang Penebus Waingapu telah meluncurkan logo dan maskot Ana Penebus untuk perayaan HUT ke-75 tahun 2026.

Peluncuran logo dan maskot Ana Penebus ini dilakukan oleh Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali dan Sekda Kabupaten Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, Jumat, 17 April 2026 malam.

Informasi yang diterima sabanapedia.com dari Humas Panitia menjelaskan, ini makna yang terkandung di dalam Logo dan Maskot Ana Penebus.

Berikut ini adalah penjelasan lengkap arti dari logo dan maskot Ana Penebus:

Baca Juga: Menuju 75 Tahun, Paroki Sang Penebus Waingapu Luncurkan Logo dan Maskot

Logo HUT ke-75

Logo perayaan 75 tahun ini bukan sekadar gambar, melainkan kisah iman yang hidup. Di tengahnya, kita melihat Yesus yang bangkit sambil mengangkat salib.

Ia berdiri tegak, menegaskan bahwa kita adalah umat yang telah ditebus oleh pengorbanan-Nya. Tangan-Nya yang terbuka merangkul semua orang tanpa kecuali. Itulah kasih yang menyelamatkan.

Dari belakang-Nya memancar cahaya terang, melambangkan kebangkitan, harapan, dan hidup baru. Inilah perjalanan iman kita: dari kegelapan menuju terang, dari keraguan menuju kepercayaan, dari luka menuju pemulihan.

Angka 75 yang tampak jelas bukan sekadar penanda waktu, tetapi tanda kesetiaan Tuhan yang senantiasa menyertai perjalanan paroki kita.

Selama 75 tahun, umat mengalami jatuh dan bangun, namun tetap bertahan dalam iman, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan.

Baca Juga: Sambut Paskah dan HUT ke-75, Paroki Sang Penebus Wara Gelar Aksi Sosial Donor Darah

Tema “75 Tahun Ditebus dan Diutus” menjadi inti dari seluruh makna ini. Kita telah ditebus oleh kasih Kristus; diselamatkan, dipulihkan, dan dihidupkan kembali.

Namun kita juga diutus: tidak untuk tinggal diam, melainkan pergi membawa kasih itu ke dalam keluarga, masyarakat, dan dunia.

Nuansa budaya lokal Sumba yang hadir dalam motif dan ornamen mengingatkan kita bahwa iman ini hidup dan berakar di tanah kita.

Halaman:

Editor: Jumal Hauteas

Sumber: sabanapedia.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X